Slide -1

Title.com.

11 ADAB MURID TERHADAP GURU

Sumber : Imam Al-Ghazali di dalam Bidayatul-Hidayah*

Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2020

SANAD KEILMUAN DAN GURU-GURU AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ


Sanad keilmuan Guru Mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, disampaikan oleh beliau secara langsung di Auditorium Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 25 September 2019.

Diantara Guru-guru beliau yaitu :

1. Ayah beliau yaitu Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz
2. Habib Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Syihabuddin
3. Habib Abdillah bin Syekh bin Idrus Al Idrus
4. Habib Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar
5. Habib Ahmad Waliy bin Ahmad Abu Bakar bin Syaikh Abu Bakar
6. Habib Muhammad bin Awud bin Syaikh Abu Bakar
7. Habib Syekh bin Ahmad bin Salim bin Syaikh Abu Bakar
8. Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Habsyi
9. Habib Ahmad bin Hasan Al Haddad
10. Habib Ja'far bin Salim Al Habsyi
11. Habib Ali bin Hasan bin Ahmad Al Attas
12. Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf
13. Habib Abubakar Attas bin Abdullah Al Habsyi
14. Habib Ahmad Masyhur bin Thoha Al Haddad
15. Habib Ibrahim bin Umar bin Agil bin Yahya
16. Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar
17. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki
18. Habib Haddar bin Muhammad Al Haddar
19. Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri
20. Syaikh Fadhil bin Abdurrahman BaFadhl
21. Syaikh Muhammad Yasin Al Fadani
22. Syaikh Ismail bin Zain Al Yamani
23. Habib Idrus bin Umar Al Habsyi
24. Habib Muhammad bin Salim As Sirri
25. Para Ulama dari Negeri Syam dan India
26. Para Ulama dari Negeri wilayah Barat dan Timur
27. Serta banyak Ulama lainnya

Ijazah Sanad ilmu dakwah :

1. Habib Ahmad bin Hasan Al Haddad
2. dari Ahmad bin Hasan Al Attas
3. dari Habib Abubakar bin Abdullah Al Attas
4. dari Habib Ahmad bin Umar bin Smith Quthb Da'i pada zamannya
5. dari Ayahnya dan dari pamannya Habib Muhammad bin Zain Al Habsyi
6. dari Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad
7. dari Imam Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas
8. dari Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim
9. dari Ayahnya yaitu Syaikh Abu Bakar bin Salim
10. dari Imam Ahmad Syihabuddin bin Abdurrahman
11. dari Imam Al Habib Umar bin Muhammad Basyaiban
12. dari Imam Abdurrahman bin Syaikh Ali
13. dari Ayahnya dan Pamannya Imam Abdullah Alaydrus
14. dari Imam Abubakar As Sakran dan Imam Umar Muhdor
15. dari ayahnya Imam Abdurrahman Assegaf
16. dari Imam Muhammad Mauladdawilaih
17. dari ayahnya Imam Ali dan pamannya Imam Abdullah
18. dari ayahnya Imam Alwi bin Faqih Al Muqoddam
19. dari ayahnya Sayyidna Faqih Al Muqoddam
20. dari ayahnya Imam Ali
21. dari pamannya Alwi (kakek dari Walisongo di Indonesia)
23. dari Imam Muhammad bin Shahib Mirbath
24. dari ayahnya Imam Kholi' Qosam
25. dari ayahnya Imam Alwi
26. dari ayahnya Imam Muhammad
27. dari ayahnya Imam Alwi (awal dari marga Ahlul Bait yang disebut sebagai Alawiyyin)
28. dari ayahnya Imam Ubaidillah
29. dari ayahnya Imam Ahmad Muhajir bin Isa
30. dari ayahnya Imam Isa
31. dari ayahnya Imam Muhammad
32. dari Imam Ali Al Uraidhi
33. dari saudaranya Imam Musa Al Kadzim
34. dari ayahnya Imam Ja'far As Sodiq
35. dari ayahnya Imam Muhammad Al Bagir
36. dari ayahnya Imam Ali Zainal Abidin
37. dari ayahnya Sayyidina Husein bin Ali
38. dari ayahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib
39. dari Ibunya Sayyidina Fatimah Az Zahra
40. dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Kemudian setelah menyebutkan guru-guru beliau, Habib Umar bin Hafidz mengijazahkan sanad ilmu dakwah kepada ribuan Ulama, Habaib Kiai, dan Ustadz yang hadir.

Sumber : dikutip melalui laman Facebook Ustadz Imron Rosyadi

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Share:

Kamis, 17 September 2020

BIOGRAFI SINGKAT KH ANWAR ISA

Ayahnda Drs.H. Anwar Isa, Lc, putera dari pasangan H.M. Isa dan Hj.Nuriah, beliau adalah saudara kandung Prof.DR. H. Ahmadi  Isa, MA. Pria yang akrab di sapa "Abi" ini  lahir  pada  tanggal  1  Mei  1946  di  Jarang Kuantan,  Amuntai Kalimantan Selatan.  Alamat tinggal di jalan Salak No. 8 (Belakang Masjid Nurul Islam) Palangka Raya. Kyai Anwar Isa menekuni bidang keagamaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Beliau sangat mahir berbahasa Arab dan karenanya urang Jarang  Kuantan ini sangat  menggemari membaca kitab-kitab  berbahasa  Arab.  Motto  hidupnya  adalah  berjuang untuk ummat Islam. Ia berpesan kepada generasi muda jadilah insan yang bermanfaat bagi ummat dan masyarakat. 

Pendidikannya  dimulai  dari  SR  6  tahun  (Amuntai)  tamat tahun  1959,  PGA  4  tahun  (Rantau)  tamat  tahun  1962,  MAAIN (Banjarmasin)  lulus  tahun  1965,  Pondok pesantren  Rasyidiyah Khalidiyah  (Amuntai)  lulus tahun 1965. Di pondok Rakha ini beliau belajar kepada Ulama besar di antaranya Syaikh Janawi, Syaikh Nafiah, Syaikh Zam Zam( beliau mendengarkan Hadits Arbain Nawawi dengan beliau).

Sarjana  Muda  IAIN  (Amuntai)  lulus  tahun  1972,  Sarjana Lengkap(Drs) diraihnya dari Sekolah Tinggi Islam Tarbiyah Rakha Kopertis IV Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1992.Sedangkan gelar Lc diperolehnya di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, Syiria pada tahun 1982.Beliau bermukim di sana kurang lebih 10 tahun. 

Beliau kuliah di sana dan mendapati Ulama- Ulama besar di antaranya :
1. Fadhilatu Syaikh Muhaddits Doktor Nuruddin 'Itr
2. Fadhilatu syaikh Al-Imam Asy-Syahid Doktor Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi.
3. Fadhilatu Syaikh Al-Faqih Doktor Wahbah Az-Zuhaili.
4. Serta Saudaranya Fadhilatu syaikh Musthafa Zuhaili.
5. Fadhilatu Syaikh Al-Habib Muhammad bin Alwi Al- Maliki Al-Hasani.
6. Fadhilatu Syaikh Abdul Karim Al-Banjary
Dan lain-lain.
Melakukan perjalan Haji kurang lebih 22 kali, melakukan perjalanan ke Lebanon, mesir.

Selain itu, beliau juga mengikuti penataran P4 Tingkat Nasional (1985), Tenaga Pengajar Bahasa  Arab LIPIA  (1988), Manasik haji (1992) dan  Pelatihan Pemahaman Al-Qur’an di Palangkaraya (2001). Berbagai kegiatan lain yang bertemakan agama (bidang Kemasjidan dan Tilawatil Qur’an) beliau ikuti secara berkesinambungan.

Sejak usia muda hingga sekarang beliau aktif diberbagai organisasi keagamaan, kemahasiswaan, kemesjidan  dan lain-lain. Putera H. Muhammad Isa yang ini juga aktif dibidang pendidikan. Hal  tersebut  dapat  dilihat  dari  aktifitasnya  sebagai  Pemimpin Ponpes Al-Anwar Amuntai (1988), Kepala Sekolah Ibtidaiyah NU Jl. Dr. Murjani Palangka Raya (1994-2000), Dosen Luar Biasa pada STAIN Palangka Raya (1999-2000), Dosen Pendidikan Agama Islam di Akademi Gizi Politeknik Kesehatan Palangka Raya (2000), selain mengajar di Perguruan Tinggi tersebut, juga berprofesi sebagai  Imam besar Mesjid Raya Nurul Islam  Palangkaraya (sejak 1994 – sekarang), Penatar/Pelatih Manasik Haji  Tingkat Provinsi  Kalteng (2004),  Penyeleksi  calon Petugas Haji Daerah Kalteng (2003-2005), Ketua KBIH Kiswah Palangka Raya (sejak 2002-sekarang) dan sebagai penceramah di berbagai Majelis Ta’lim. 

Jabatan lainnya yang pernah diemban adalah sebagai Ketua MUI Provinsi Kalimantan Tengah, Ketua/ Rois Syuriah PWNU Provinsi Kalimantan Tengah, Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Kalimantan Tengah.


Beliau berpulang kerahmatullah pada hari Rabu 16 September 2020 sekitar Pukul 11.20 WIB di RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya. Dan di makamkan di Alkah Warga Amuntai Komp. Bengaris Kota Palangka Raya berdampingan dengan makam KH. Busra Khalid dan Prof. Dr. H Ahmadi Isa dengan usia 74 tahun.

Selamat jalan guruku
Semoga Allah melapangkan Kubur pian, selalu dapat curahan Rahmat dan maghfirah dariNya dan semoga yg ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran. Aamiin

#Catatan ini diambil dari berbagai sumber dengan sedikit penambahan dari penulis

Sumber: 
1) Judul Buku "Ulama Banjar dari Masa ke Masa" (edisi revisi) kerjasama LP2M UIN Antasari dgn MUI Provinsi Kalimantan Selatan thn 2018 hal 446 (Profil KH. Anwar Isa)
2) Catatan Sanad Masyaikhah Banjariyyah yg ditulis Guru H. Abdussalam AM ketika berkunjung kerumah alm abi tanggal 10 Juli 2020
Share:

Rabu, 19 Agustus 2020

HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD : ULAMA PRODUKTIF YANG KARYANYA DIBACA DUNIA


Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawiy bin Muhammad al-Haddad RA, lahir di desa Sabir, kota Tarim, Hadramaut Yaman, pada hari Kamis 5 Safar 1044 H. Tumbuh berkembang dan dididik di Tarim. Habib Abdullah al-Haddad ditakdirkan sejak kecil matanya buta. Akan tetapi Allah memberinya nur al-bashirah (cahaya mata bathin), tajam dalam melihat dan menganalisa keadaan, dimudahkan dalam menghapal dan memahami pelajaran dan bersemangat serta sungguh-sungguh dalam belajar.

Semasa kecil dan remaja Habib Abdullah al-Haddad di Tarim, Hadramaut, belajar kepada al-Habib Umar bin Abdurrahman al-’Athas, al-Habib al-’Allamah ‘Aqil bin Abdurrahman al-Saqqaf, al-Habib al-’Allamah Abdurrahman bin Syekh ‘Aidid, al-Habib al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahasan al-Hadiliy Ba’alwiy, dan ketika ada kesempatan ke Makah al-Mukarramah belajar pada as-Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Saqqaf.

Semasa hidupnya, Habib Abdullah al-Haddad mendedikasikan diri untuk gerakan dakwah, mengajar, menyebar hikmah, memberi nasihat yang baik, dan menulis kitab dengan cara ucapanannya diketik dan dituliskan oleh para muridnya, lantaran ada keterbatasan penglihatan. Dakwah, nasihat, dan kitab karyanya mendapatkan respon dan penerimaan yang baik oleh semua kalangan, dari masyarakat umum sampai pemerintah pada masanya.

Kitab-kitab karyanya sampai sekarang dibaca, dikaji, dan sebagai materi pengajian di dunia Islam, khususnya di Yaman. Sedangkan di Indonesia, kitab-kitabnya banyak dikaji dan dijadikan bahan ajar pengajian para kiyai dan santri kalangan Nahdhiyyin dan tentu saja di kalangan habaib sendiri. Bahkan dikenal dipenjuru dunia. Sebagian karyanya telah diterjemah ke bahasa asing, yaitu Inggris, Perancis, dan Indonesia.

Di antara kitab karyanya yang terkenal yaitu al-Nashaih al-Diniyah, al-Da’wah al-Tammah, dan Risalah al-Mu’awanah. Kitab-kitab ini dibaca di kalangan para kiyai dan santri Nahdhatul Ulama. Beliau sangat mencintai dan gandrung pada kitab-kitab karya Imam al-Ghazali, khususnya kitab Ihya ‘Ulumuddin. Sehingga beliau sangat terpengaruh oleh Imam al-Ghazali. Pengaruh Imam al-Ghazali sangat terasa di kitab-kitab karyanya. Seperti di kitab Nashaih al-Diniyah, beliau mengadopsi istilah-istilah yang dipopularkan Imam al-Ghazali, yaitu al-muhlikat (hal-hal yang merusak jiwa manusia) dan al-munjiyat (hal-hal yang menyucikan/menyelamatkan jiwa manusia).

Dilihat dari madzhab dan akidahnya, Habib Abdullah al-Haddad serupa dengan NU, yaitu seorang Ahlissunnah Wal Jamaah (Sunni), bermadzhab al-Syafi’i, dan sufi pengagum sufisme Imam al-Ghazali.

Di antara murid-muridnya yang kemudian hari menjadi ulama besar yaitu putranya sendiri yang bernama Al-Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad, al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi, al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih, Habib Muhammad dan Habib ‘Umar yang keduanya adalah putra dari Zein bin Semith, al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Bar, al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf, al-Habib Muhammad bin Umar bin Thaha al-Shafi al-Saqqaf. Dan masih banyak lagi ulama besar dan berpengaruh yang termasuk sebagai muridnya.

Pada tahun 1079, beliau pergi ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji, ziarah ke makam kakek moyangnya, yaitu Rasulullah SAW, dan berkumpul bersama para ulama yang ada di Mekah dan Madinah.

Wafat dan berpulang ke Haribaan Allah SWT pada hari Selasa, 7 Dzu al-Qa’dah 1132 H. Dikubur di Kuburan Zanbal, kota Tarim, Yaman.

Kebanyakan karyanya ditulis dengan dengan bahasa yang enak dibaca. di antaranya yaitu Kitab Nashaih al-Diniyah ditulis dengan bahasa yang enak dibaca, mudah dipahami baik oleh terpelajar maupun orang umum.

Di dalamnya membahas beberapa tema yaitu; Mabhats at-taqwa (pembahasan tentang takwa); Mabhats al-’ilmi (pembahasan tentang ilmu); Mabhats al-shalat (pembahasan tentang shalat); Mabhats al-zakat (pembahasan tentang zakat); Mabhats al-shaum, (pembahasan tentang puasa); Mabhats al-haj (pembahasan tentang haji); Mabhats Tilawat al-Quran wa al-Dzikr (pembahasan tentang membaca al-Quran dan berdzikir); Mabhats al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi ‘an al-Munkar (pembahasan tentang perintah yang makruf dan larangan yang munkar); Mabhats al-Jihad; Mabhats al-Wilayah wa al-Huquq (pembahasan tentang perwaliyan dan hak-hak kewajiban); Mabhats al-Muhlikat (pembahasan tentang hal-hal yang merusak jiwa manusia); Mabhats al-Munjiyat (pembahasan tentang hal-hal yang menyucikan/menyelamatkan jiwa manusia); Khatimah al-Kitab fi ‘Aqidah Ahlissunnah wa al-Jamaah; Khatimah al-khathimah yang menjelaskan tujuh hadis keutamaan berdakwah.

Seluruh karya Habib Abdullah al-Haddad tersimpan rapih di perpustakaan Alawiyyin Jakarta, sebuah lembaga yang dirintis oleh para habaib Indonesia untuk mengoleksi karya-karya habaib Nusantara dan dunia Islam. Menurut penjelasan dari ketua kajiannya, KH. Habib Sayyid Yusuf Aidid, bahwa karya habaib yang berhasil dikumpulkan sampai hari ini mencapai 3000 judul. Ini sebuah kekayaan khazanah tersendiri yang layak diteliti dan dikaji.


Sumber : https://islami.co/habib-abdullah-bin-alwi-al-haddad-ulama-produktif-yang-karyanya-dibaca-dunia/

Share:

Senin, 08 Juli 2019

ULAMA KHARISMATIK PALANGKARAYA, yang mendidik di kota cantik


K.H Muhammad Majedi

Kedatangan K.H Muhammad Majedi ke Palangkaraya bagaikan lampu yang hidup di tengah ruangan yang gelap gulita, bagaikan kunang-kunang yang menerangi jalan di tengah hutan dan laksana bulan yang menerangi malam ketika gelap menerpa. Mak disinilah awal perjuagan K.H. Muhammad Majedi dalam membentuk masyarakat serta berdakwah di palangkaraya.

Dalam sebuah buku yang berjudul 100 tokoh Kalimantan, beliau dating ke palangkaraya tahun 1957 dan dalam buku disebutkan bahwa beliau termasuk urutan ke 43 dari sejumlah tokoh yang ada di kalimatan, demikina menurut abu Nazla sebagai penulis buku tersebut. Dalam tulisanya dipaparkan bahwa K.H Muhammad Majedi adalah seorang ulamayang terkenal sangat toleransi dalam hidup dan kehidupan beragama berbangsa dan bernegara, maka tidaklah salah kalau beliau sangat dicintai masyarakat sekitar Pahandut dan daerah lainya.

MEMBANGUN MESJID NURUL HIKMAH
Pada ssat itu siapa yang bisa menduga ketika K.H Muhammad Majedi dating ke palangkaraya langsung mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat sekitar Palangkasari.
Masjid yang pertama kali berdiri di Pahandut adalah Mesjid Wal-Fajri (sekarang langgar Wal-Fajri)yang terletak di jalan Kalimanatan. Pada saat itu jumlah penduduk muslim di sekitar Pahandut masih belum terlalu banyak sehingga mesjid tersebut masih mampu menampung jamaah sholat jum’at. Namun setelah kaum muslimin bertambah khususnya para pendatang yang bertempat tinggal di Palangkasari mulai banyak maka mesjid tersebut sudah tidak mampu lagi menampung jamaah muslim. Ketika sholat jum’at Mesjid Nurul Hikmahyang pada awalnya hanya berfungsi sebagi mushola atau langgar dirubah menjadi sebuah Mesjid, letaknya di komplek Palangkasari di jalan Darmosugondo sekarang.
Dalam tanyangan televise yang berjudul Zamrud di tanah Pahandut produksi TVRI Kalimantan Tengah tahun 2010, menceritakan sekulumit tentang masuknya islam di Palangakaraya dan berdirinya Mesjid Nurul Hikmah di komplek Palangkasari. Pada awalnya Mesjid Nurul Hikmah berbentuk mushallah sederhana dengan berukuran 25x35 m mengunakan atap daun pelepah kelapa(kajang) dan berdinding kayu serta berlantaikan papan dan tempat wudhupun sampai tahun 1970 masih berupa kolam biasa. Airnya diamabil dari sungai Kahayan di pelabuhan ramabang oleh para pemuda dan masyarakat saat itu.
Jadi, anatar perkembangan islam di Palangkaraya dengan kehadiran serta kiprah perjuagan  beliau tidak dapat di pisahkan, sehingga sungguh wajar sekali dimana kita sebagi penerus perjuagan beliau untuk memajukan cita-cita dan harapan beliau untuk memajukan islam di Kalimanta Tengah khususnya di kota Palangkaraya.


Madrasah Ibtidaiyah Islamaiyah ketika masih Di Palangkasari
MEMBANGUN MADRSAH ISLAMIYAH
Cikal bakal Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah itu duldunya adalah tempat belajar anak-anak sore yang mengaji dan mempelajari beberapa ilmu pengatahuan Agama Islam seperti Tauhid, Fiqih, Tajwid dan Bahasa Arab. Yang beretmpat di rumah salah seorang warga penduduk Palangakasari.
Pada seiktar tahun 1964/1965 Madrasah Islamiyah berpndah tempat ke jalan Dr. Murjani karena sudah mendaptkan lahan tanah yang cukup luas yang merupak tanah pemebrian dari gebenur bapak Cilik Riwut.

MENDIRIKAN PANTI ASUHAN
K.H Muhammad Mejedi bersama H. Imran Ysusf dan K.H Busro Khalid mendirikan sebuah Panti Asuhan yang di beri nama “BUDI MULIA”terletak di jalan RTA Milono Km.2,5 juga mendirikan Panti Asuhan yang di beri nama “BINA SEJAHTERA” yang terletak di jalan cik ditiro.

Pembangunan Mesjid Nurul Islam
MENDIRIKAN MESJID NURUL ISLAM
Pendiri sekaligus pengurus pertama pad Mesjid  Nurul Islam adalah K.H. Busro Kholid, K.H Muahammad Majedi, H. Kamsin Arifin, H. Salam, H. Omariyah, H. Fakran, H. Karim dan Dirja Mambang serta Letkol Tabrani.

BERGABUNG DENGAN ORMAS NAHDATUL ULAMA
-  Membangun Madrasah NU
Beliau terpilihsebagi ketua Pengurus Syuriah Nahdatul Ulama cabang Kota Palangkaraya Selma tiga periode berturut-turut sejak tahun 1962-1985.
Beliau membentuk lembaga pendidikan di bawah yayasan Maarif NU cabang Kota Palangkaraya. Adapun lembaga-lembaga pendidikan yang terwujud atas kerja keras beliau bersama teman dan para sahabat beliau anatar lain dengan dibangunya Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama yang berdiritahun 1970 yang terletak di jalan Dr. Murjani. Selajutnya Sekolah Menengah Pertama Nahdatul Ulama yang verdiri pada tanggal 17 Juni 1979 yang terletak di jalan RTA Milono, Sekolah Menengah Atas NU berdiri sejak tahun 1983 di atas tanah wakaf H. Djantarmin.. menyusul pendirian taman kanak-kanak NU yang berdiri tanggal 1 Januari 1983 yang didirikan  oleh hasil suadaya murni dari masyarakat dan tokoh-tokoh Muslimat NU yang terletak di jalan Pilau komplek Penarung.

WAFAT
Pada hari Sabtu Tanggal 29 Juli 1995 bertepatan dengan 1 Rabi’ul awwal 1416 H, pukul 23,30 Wib Beliau menhebuskan nafas terkahir dengan mengucapkan kalimat Dzikrullah . Jenazah di Sholatkan di Mesjid Nurul Hikmah Komplek Palangakasari yang juga berdekatan dengan rumah duka. Setalah itu jenazah di bawa ke komplek kuburan Muslimin Jalan cilik Riwut km. 2,5 untuk di makamkan. (sumber : buku K.H. Muhammad Majedi ULAMA KHARISMATIK yang mendidik di kota cantik Palangakaraya) (Abu Atoillah)
Share:

Support