Slide -1

Title.com.

11 ADAB MURID TERHADAP GURU

Sumber : Imam Al-Ghazali di dalam Bidayatul-Hidayah*

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Maret 2021

Bangsawan di Mata Rasulullah

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian bagus dan nampak berwibawa melewati mereka. Rasulullah SAW pun kemudian bertanya kepada salah seorang sahabat yang berada di dekatnya mengenai orang yang baru saja lewat tersebut.

Seorang sahabat segera menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang bangsawan, demi Allah pantas saja jika ia meminang seorang gadis pasti diterima, dan apabila ia membantu memintakan sesuatu untuk orang lain pasti akan dikabulkan.” Rasulullah SAW hanya diam mendengar jawaban demikian.

Tak lama kemudian ada lagi orang lain yang melewati mereka dengan pakaian sederhana dan dalam tingkah yang biasa-biasa saja. 


Lalu Rasulullah SAW pun bertanya kembali kepada para sahabat di sekelilingnya. Bagaimanakah pendapat mereka tentang orang yang juga baru saja lewat. Seorang sahabat menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang rakyat jelata miskin yang sangat layak bila pinangannya pasti ditolak. Dan jika memintakan bantuan untuk orang lain, pantas pula ditolak. Orang-orang dapat saja dengan mudah tidak mempercayai ucapan-ucapannya.” 
Mendengar jawaban ini, Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Demi Allah, orang yang kedua ini lebih baik dari pada yang pertama, dengan seberat bulatan penuh bumi.” (HR Bukhari Muslim) 

Rasulullah SAW lalu menceritakan tentang perbincangan antara surga dan neraka yang kemudian diputusi oleh Allah. Neraka berkata, ”Aku disesaki oleh para pembesar, penguasa dan orang-orang yang sombong.” Kemudian surga menimpali, ”Aku dihuni oleh orang-orang miskin dan rakyat jelata.” Allah pun berfirman kepada keduanya, ”Kau surga, tempat rahmat-Ku, terberkatilah mereka yang memasukimu, siapa pun yang Kukehendaki. Dan kau neraka, Aku menyiksa mereka yang memasukimu, siapapun yang Kukehendaki. Masing-msing dari kalian pasti akan Kupenuhi.” (HR Muslim) 

Hamba Allah tidak dinilai berdasarkan kedudukan duniawi. Seorang hamba akan dirahmati atau disiksa karena amal perbuatannya. Siapa pun ia, tanpa peduli jabatan dan status sosialnya. (Anam)

Share:

Senin, 15 Maret 2021

CELAKA BAGI ORANG ALIM YANG ILMUNYA TIDAK BERMANFAAT

Orang Yang Alim 1000x Lebih celaka daripada Orang Bodoh, Apabila Ilmunya Tidak Bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain

وعن قوله صلى الله عليه وسلم: (مررت ليلة أسرى بي بأقوام تقرض شفاههم بمقارض من نار، فقلت: من أنتم؟ قالوا: كنا نأمر بالخير ولا نأتيه وننهى عن الشر ونأتيه).

Sabda Nabi saw :

"Di malam aku melakukan Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting api neraka. Lalu aku bertanya, 'Siapa kalian?' dan Mereka menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri mengerjakannya!'


فإياك يا مسكين أن تذعن لتزويره فيدليك بحبل غروره، فويل للجاهل حيث لم يتعلم مرة واحدة، وويل للعالم حيث لم يعمل بما عمل ألف مرة.

Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu untuk diperdaya oleh jerat tipuannya. Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya


 Sumber : Kitab Bidayatul Hidayah



Share:

Kamis, 01 Oktober 2020

ADAB DALAM MAJLIS YANG SERING DIABAIKAN


Dalam suatu rauhah yang dihadiri oleh Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus, seorang munsyid membacakan sebuah qosidah Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad. 

Setelah qasidah itu selesai dilantunkan, berkata Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Al Aydrus :

"Jika ada seseorang yang asyik berbicara pada saat dilantunkan suatu qasidah yang digubah oleh Salaf, maka hal itu akan berarti dia merasa yakin bahwa dia punya percakapan lebih baik dari kalam Salaf. Atau bisa berarti dia menolak kalam tersebut. 

Begitu juga jika seseorang asyik berbicara pada saat yang lain lagi membacakan Fatihah atau berdoa, maka hal itu menunjukkan sesungguhnya dia tidak mau mendapatkan pahala dari Fatihah atau doa yang dibacakan itu."

Didalam hadits dikatakan :

"Jika ada seseorang asyik berbicara ketika yang lainnya sedang membaca Al-Qur’an, maka ALLAH menyuruh seorang Malaikat dan Malaikat tersebut akan berkata kepada yang lagi asyik berbicara, “Diamlah wahai musuh ALLAH”, sampai ia tidak bicara lagi.

Jika ia masih tetap berbicara, Malaikat tadi akan berkata kepadanya, “Diamlah wahai orang yang sungguh dibenci oleh ALLAH”, sampai ia berhenti berbicara. 

Jika ia masih juga tetap berbicara, Malaikat itu akan berkata kepadanya, “Diamlah wahai orang yang sungguh dilaknat oleh ALLAH.”

Kalam Rasulullah SAW bersesuaian dengan Al-Qur’an. Begitu juga dengan kalam Salaf bersesuaian mengikuti kalam Rasulullah SAW. Karena mereka tidaklah berbicara kecuali dengan izin Robbani. 

Begitulah ilmu tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan adab. Maka beradablah kalian… Beradablah…

Sumber : Diambil dari kitab Bahjatun Nufus fi kalam Al-Habib Abdul Bari' bin Syeikh Alaydrus, disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Saggaf bin Zain Al-Hadi, hal. 84-85


Share:

Sabtu, 12 September 2020

MENGHORMATI AHLUL BAIT DAN AHLI ILMU


Di zaman Sahabat, pernah terjadi pertikaian antara dua Ulama besar, dua sosok yang sama-sama disayangi baginda Nabi Saw. Dua tokoh itu adalah Zaid Bin Tsabit dan Abdullah Bin Abbas -Rodiyallahu anhuma-.

'Konflik' kedua sahabat Nabi itu sampai sekarang masyhur dengan masalah 'Mubahalah'. Santri yang pernah ngaji Faraidh pasti tahu masalah ini.

Cerita bermula ketika Abdullah Bin Abbas berbeda pendapat dengan Zaid Bin Tsabit dalam masalah 'Jadd wa Ikhwah'. Ibnu Abbas menyatakan bahwa 'kakek' bisa menggugurkan hak waris 'saudara-saudara' mayit sedangkan Zaid tetap kukuh bahwa mereka tetap memiliki hak waris meskipun kakek masih hidup.

Saking yakinnya Ibnu Abbas akan kebenaran pendapatnya, sampai-sampai beliau berkata :

" Tidak takutkan Zaid kepada Allah dalam masalah ini ?? Aku ingin ia dan orang-orang yang tidak sependapat denganku dalam masalah ini mendatangi Ka'bah dan marilah kita 'bermubahalah'. Siapa yang berdusta maka laknat Allah akan turun atas dirinya !! "

Beberapa waktu Kemudian mereka berdua bertemu dalam suatu acara. orang-orang sudah menanti apa yang akan dilakukan dua sahabat yang sedang berseteru itu. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan..

Kala itu, Ibnu Abbas melihat Zaid datang menaiki kuda. Segeralah ia mengambil tali kekang kudanya lantas menuntunnya sebagai bentuk penghormatan. Zaid yang tak nyaman dimuliakan seperti itu berkata :

" Jangan kau lakukan ini wahai sepupu Rasulullah"

" Seperti ini kami diajarkan untuk menghormati ulama kami", jawab Ibnu Abbas santai sambil tersenyum

Zaid tak mau kalah. Ia berkata kepada Ibnu Abbas :

" Bisa liat tanganmu sebentar" ??

Ibnu Abbas yang sama sekali tak curiga langsung memberikan tangannya. Ibnu Abbas 'tertipu'. Di detik itu juga Zaid dengan penuh Tadhim mencium tangannya.

" Seperti ini kami diajarkan untuk memuliakan keluarga Nabi kami.. " Zaid tersenyum bahagia.

Sumber : Kutipan Postingan dari Ustadz Muhammad Ismael Al Kholilie, salah satu keturunan dari Syaikhona KH. Kholil Bangkalan, Madura

http://www.rumah-muslimin.com/2019/11/menghormati-ahlul-bait-dan-ahli-ilmu.html?m=1#.X1ygQINgPAU.facebook
Share:

Jumat, 11 September 2020

KUNCI MERAIH KEBAHAGIAAN HIDUP YANG SEJATI


Siapa yang dalam hidupnya tidak ingin bahagia? Laki-laki maupun perempuan. Besar maupun kecil. Tua maupun muda, bahkan yang kafir maupun yang mukmin. Pasti di dalam hidupnya berharap untuk menjadi orang yang berbahagia.

Hanyalah orang yang tidak berakal yang tidak ingin bahagia di dalam hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita meraihnya?. Seseorang yang melakukan bermacam-macam aktifitas, dia lakukan bermacam-macam pekerjaan karena dia yakin di situlah letak kebahagiaan.

Tanpa ada harapan untuk mendapatkan kebahagiaan, maka dia tidak akan berani untuk beraktifitas dan melakukan bermacam-macam pekerjaan. Akan tetapi, bagaimana kita meraih kebahagiaan? Ketauhilah sesungguhnya, manusia diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala bukan hanya dengan jasmani, bukan hanya dengan akal. Dalam diri manusia terdapat ruh, terdapat jiwa yang di situ juga sama mempunyai kebutuhan untuk senang dan bahagia.

Di saat jasmani kita akan merasa berbahagia dengan beristirahat, dengan makan, dengan tidur dan bermacam-macam aktifitas lainnya. Maka sesungguhnya akal kita akan menuntut, akal lebih berbahagia tatkala akan mendapatkan siraman ilmu pengetahuan.

Begitu pula ruh dan jiwa. Ruh akan kembali merasakan kebahagiaan tatkala kembali ke tempat asalnya yaitu Allah subhanahu wata’ala, di mana Allah mengatakan di dalam Al-Quran:

……. وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى ….

Dan aku (Allah) tiupkan di dalam Adam dan anak cucunya bagian dari ruh (ciptaan)-Ku”. Ruh akan menjadi seimbang, tatkala dia akan kembali kepada Tuhannya.

Bahagia bukan hanya dengan menumpuk harta, Bahagia bukan hanya di saat ia merasakan kekuasaan yang besar. Namun hakikat dari pada kebahagiaan (adalah) tatkala jiwa seseorang stabil, tenang, tentram (dan) kembali kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka Allah mengatakan di dalam Al-Quran :

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(surat Ar-Rad ayat 28)

Orang-orang yang beriman tentram jiwanya, hatinya menjadai tenang tatkala mengingat kepada Tuhannya, karena saat itu kembalinya ruh kepada tempat asalnya yaitu Allah subhanahu wata’ala. Ketauhilah dengan mengingat Allah, di situlah letak kebahagiaan.

Sebaliknya, orang yang sama sekali lalai kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak melaksanakan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah, bahkan ia langgar (peraturan) Allah subhanahu wta’ala. Maka meskipun secara lahiriyyah dia adalah orang yang bergelimang dengan harta benda, berada di dalam puncak jabatan di depan manusia, maka pada hakikatnya Allah mengatakan :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا …..

(surat Thaha Ayat 124)

Mereka yang berpaling dariku, tidak mau kepadaku, tidak mau kembali pada kasih sayangku, kata Allah subhanahu wata’ala. Maka dia berada di dalam kehidupan yang sempit. Meskipun seperti apa bentuknya, dia tidak merasakan hakikat dari pada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bukti bahwa manusia tidak bisa lepas dari pada bertuhan, adalah adanya agama-agama di muka bumi ini. Bahwa ruh dan jiwa mereka tidak bisa lepas dari yang namanya  al-ilah atau yang Namanya al-ma’bud. Ini adalah bukti nyata, lihat, orang menyembah pahala, menyembah matahari, menyembah api, menyembah ini dan itu adalah bukti bentuk ekspresi mereka, kebutuhan ruh mereka terhadap yang Namanya sesembahan, di mana ruh akan menjadi tenang dan tentram tatkala di situ dia menemukan tempat asalnya sesembahan.

Nah, di sinilah pentingnya Allah mengutus para utusan. Ini loh makanan yang halal. Tidak setiap sesuatu yang bisa dikonsumsi itu halal. Begitu pula tidak setiap sesuatu yang bisa disembah, itu bisa disembah.

Maka di saat kembali kepada Tuhannya, di situlah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Di tulis oleh : Al Habib Hamid Al Qadri

Sumber : https://mading.id/uncategorized/kunci-meraih-kebahagiaan-hidup-yang-sejati/

Share:

Rabu, 02 September 2020

11 ADAB MURID TERHADAP GURU


1) Apabila bertemu dengan guru, murid hendaklah mengucapkan salam

2) Murid hendaklah tidak banyak bicara di depan guru.

3) Murid tidak boleh berkata sesuatu yang tidak di izinkan gurunya.

4) Murid tidak boleh menanyakan sesuatu kepada gurunya melainkan setelah meminta izin dari gurunya. 

5) Murid tidak boleh menyangkal kata-kata gurunya seperti menyarankan bahwa kata-kata si fulan itu bertentangan dengan kata-kata gurunya atau sebagainya.

6) Murid tidak boleh memberi isyarat untuk menunjukkan kata-kata gurunya salah dan menganggap akan dirinya lebih betul atau lebih mengetahui daripada gurunya. Perbuatan seperti ini menunjukkan kekurangan adab murid kepada guru, di samping kurang berkatnya.

7) Murid tidak boleh berbisik dengan orang-orang yang disebelahnya berhadapan dengan guru.

8) Murid tidak boleh menoleh ke kiri atau ke kanan ketika berada di depan guru, sebaliknya ia hendaklah duduk dengan menunduk penuh adab sopan.

9) Murid tidak boleh bertanya kepada gurunya yang sedang capek.

10) Apabila guru berdiri atau baru tiba, murid hendaklah berdiri menghormatinya. Ketika guru bangkit dari duduknya, murid tidak boleh mengemukakan sebarang pertanyaan atau sesuatu masalah. Begitu juga ketika guru sedang berjalan hinggalah tiba di tempat duduknya. Pertanyaan boleh dilakukan hanya ketika darurat.

11) Murid tidak boleh berprasangka buruk terhadap gurunya.

Sumber : Imam Al-Ghazali di dalam Bidayatul-Hidayah*



Share:

Senin, 31 Agustus 2020

ADAB BANGUNKAN ANAK DARI TIDUR



Cara atau adab membangunkan anak yang tidur, anak yang masih bayi, kanak - kanak , remaja atau dewasa.

1. Beri salam kepada anak yang sedang tidur

2. Sentuh ujung ibu jari kakinya dan goyangkannya perlahan -perlahan.

3. Panggil namanya dengan lembut dan teruskan menggoyang kakinya.

4. Kalau masih belum bangun, kuatkan sedikit suara dan goyang badannya.

5. Teruskan memanggil namanya dan panggillah sayang, manja atau anak.

6. Bangunkan sambil memujinya contoh: Bangun sayang, anak umi yang baik, anak umi yang soleh, anak umi yang rajin.

7. Setelah anak bangun, usap kepalanya sambil berucap dengan lembut agar ia mandi , sholat subuh dan bersegera ke sekolah untuk menjadi anak yang bijak pandai.

8. InsyaALLAH , anak anda akan bangun dengan badan yang segar dan otak yang cerdas karena dibangunkan dengan penuh kasih sayang.

Cara ini juga boleh dilakukan kepada suami isteri tersayang atau kesiapa saja.


Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

Kamis, 27 Agustus 2020

12 ADAB SUAMI TERHADAP ISTRI


Suami dan istri adalah dua insan yang 
saling mengikatkan diri. Ada hak dan kewajiban bagi  mereka termasuk yang berkaitan dengan adab.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab seorang suami terhadap istri sebagai berikut: 

 آداب الرجل مع زوجته: حسن العشرة، ولطافة الكلمة، وإظهار المودة، والبسط في الخلوة، والتغافل عن الزلة وإقالة العثرة، وصيانة عرضها، وقلة مجادلتها، وبذل المؤونة بلا بخل لها، وإكرام أهلها، ودوام الوعد الجميل، وشدة الغيرة عليها 

Artinya: Adab suami terhadap Istri, yakni: berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri.  

Dari kutipan di atas, dapat diuraikan kedua belas adab suami terhadap istri  sebagai berikut: 

Pertama, bergaul dengan baik.  Seorang suami hendaknya berinteraksi dengan istri secara baik. Seorang suami adalah pelindung bagi istrinya. Tidak selayaknya ia mengambil jarak dari istrinya karena merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dalam keluarga.  

Kedua, bertutur kata yang lembut. Seorang suami hendaknya berbicara kepada istrinya dengan bahasa yang lembut. Kata-kata kasar dan caci maki yang menyakitkan istri harus dihindari. Jika hubungan suami dan istri baik tentulah suasana rumah tangga sangat menyenangkan.  

Ketiga, menunjukkan cinta kasih. Seorang suami hendaknya selalu menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada istri. Dalam suasana marah pun, seorang suami tetap dituntut dapat menunjukkan kasih dan sayangnya kepada istri.   

Keempat, bersikap lapang ketika sendiri. Seorang suami hendaknya tetap memiliki kemandirian sehingga jika suatu ketika harus sendirian di rumah, misalnya karena istri ada perlu di luar rumah yang tidak bisa dihindari, ia dapat melayani dirinya sendiri dengan baik tanpa banyak keluhan. Apalagi menyalahkan istri. 

Kelima, tidak terlalu mempersoalkan kesalahan istri. Setiap orang bisa berbuat salah meskipun mungkin telah berusaha bersikap hati-hati. Jika istri berbuat salah, seorang suami hendaknya  dapat menasihatinya dengan bijak. Tentu saja tidak setiap kesalahan harus dipersoalkan secara serius dan berlarut-larut sebab hal ini dapat memperburuk hubungan.  

Keenam, memaafkan jika istri berbuat salah. Dalam Islam memaafkan sangat dianjurkan. Oleh karena itu seorang suami, diminta atau tidak, hendaknya dapat memaafkan kesalahan istri. Memaafkan adalah sikap moral yang sangat terpuji dan menunjukkan jiwa besar.  

Ketujuh, menjaga harta istri. Harta istri seperti mahar dari suami atau hasil bekerja sendiri merupakan milik istri. Oleh karena itu seorang suami hendaknya menjaga harta itu dengan baik dan tidak mengklaim sebagai miliknya. Jika ia bermasud menggukan sebagian atau seluruh harta itu, maka harus meminta izin dari istrinya hingga  mendapatkan persetujuan.  

Kedelapan, tidak banyak mendebat. Perdebatan tidak selalu berdampak baik. Oleh karena itu seorang suami hendaknya dapat menghargai pendapat istri sekalipun mungkin kurang setuju. Tentu saja hal ini berlaku untuk masalah-masalah yang memang kurang prinsipil.    

Kesembilan, mengeluarkan biaya untuk mencukupi kebutuhan istri secara tidak bakhil. Sebuah parikan bahasa Jawa berbunyi: Lombok ijo lombok jeprit, karo bojo ojo medhit. Maksudnya,  suami-istri jangan pelit satu sama lain sebab hal ini akan berdampak kurang baik dalam keharmonisan keluarga.  Suami dan istri hendaknya bersikap longgar satu sama lain untuk saling membantu.     

Kesepuluh, memuliakan keluarga istri. Secara naluri seorang istri umumnya memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan keluarganya. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu seorang suami hendaknya bersikap baik terhadap keluarga istrinya dengan menghormati mereka.  Sikap sebaliknya akan melukai perasaan istri.   

Kesebelas, senantiasa memberi janji yang baik. Menjanjikan sesuatu yang baik kepada istri adalah baik terutama dalam rangka mendorong kebiasaan yang baik dalam keluarga. Sebaliknya, sangat sering memberi ancaman-ancaman tentu tidak bijaksana sebab akan menimbulkan ketakutan-ketakutan yang  berdampak kurang baik. 

Kedua belas, selalu bersemangat terhadap istri. Kegairahan hidup berumah tangga harus selalu dirawat dengan baik. Oleh karena itu seorang suami hendaknya menunjukkan semangatnya dalam berinteraksi dengan istri termasuk dalam memenuhi nafkah lahir dan batinnya.  

Demkianlah kedua belas adab suami terhadap istri sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali. Nasihat ini sekaligus menepis anggapan bahwa seorang suami boleh berbuat sesuka hati kepada istrinya. 

Tentu saja hal ini tidak benar sama sekali karena Islam sangat menekankan sikap adil. Jangankan kepada istri yang kita cintai, kepada pihak lain yang mungkin kita tidak suka, kita tetap dituntut bersikap adil.   

Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Share:

Selasa, 25 Agustus 2020

ADAB KEPADA KEDUA ORANGTUA


Jika kamu masih memiliki kedua orangtua, maka adab kepada keduanya adalah:

1. Mendengarkan ucapan keduanya.

2. Berdiri ketika mereka berdiri.

3. Mematuhi perintah keduanya.

4. Tidak berjalan di depan keduanya.

5. Tidak mengangkat suara melebihi suara keduanya.

6. Menjawab panggilan keduanya.

7. Bersemangat untuk mendapatkan keridhoan keduanya.

8. Tawadhu' kepada keduanya.

9. Tidak mengungkit-ungkit kebaikan kepada keduanya, tidak pula mengungkit bahwa kita sudah mematuhi perintah keduanya.

10. Tidak melihat kepada keduanya dengan pandangan marah.

11. Tidak memasamkan wajah di depan mereka.

12. Tidak pergi kecuali setelah meminta izin kepada keduanya.

Sumber : Kitab Bidayatul Hidayah

Share:

Rabu, 19 Agustus 2020

AMALAN UTAMA DI BULAN MUHARAM

Muharram termasuk bulan yang dimuliakan Allah SWT. Saking mulianya, ia dijuluki dengan syahrullah (bulan Allah). Muharram dikatakan mulia karena di dalamnya terdapat amalan sunah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya. Amalan sunah yang dimaksud ialah puasa. Kesunahan puasa di bulan Muharram didasarkan pada hadits riwayat Abu Hurairah:

  جاء رجل إلى النبي ضلى الله عليه وسلم فقال: أي الصيام 
أفضل بعد شهر رمضان؟ قال:  شهر الله الذي تدعونه المحرم 

Artinya, "Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadhan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?' Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram,” (HR Ibnu Majah). 

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan sebagai berikut.
 
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

 Artinya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan ialah puasa di bulan Allah, Muharram.” 

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan, hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa Muharram. Sementara hadits lain yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban, bukan Muharram, dapat dipahami melalui dua tafsiran: pertama, ada kemungkinan Rasulullah SAW baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hayatnya; kedua, Rasulullah SAW mungkin sudah memahami keutamaannya, namun beliau tidak memperbanyak puasa di bulan Muharram dikarenakan udzur, seperti sakit, sedang di perjalanan, dan lain-lain. Al-Qurthubi, seperti yang dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim menjelaskan: 
 إنما كان صوم المحرم أفضل الصيام من أجل أنه أول السنة المستأنفة فكان استفتاحها بالصوم الذي هو أفضل الأعمال 

Artinya, “Puasa Muharram lebih utama dikarenakan awal tahun. Alangkah baiknya mengawali tahun baru dengan berpuasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama.” Memperbanyak puasa di bulan Muharram disunahkan karena ia merupakan pembuka tahun baru. Seyogianya tahun baru dihiasi dengan amal saleh dan puasa termasuk amalan yang paling utama. 

Tentu harapannya, di bulan selanjutnya, menjalankan ibadah puasa sunah ini tetap dilakukan dan tidak berhenti sampai akhir bulan Muharram. Selain awal tahun, dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa tanggal 10 Muharram dianjurkan untuk berpuasa. 

Sebab itu, Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan, “Bulan utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Sementara di antara asyhurul hurum itu bulan Muharram adalah yang paling utama, kemudian Rajab, Dzulhijah, Dzulqa’dah, Sya’ban, dan puasa ‘Arafah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/71648/amalan-utama-di-bulan-muharram
Share:

Selasa, 18 Agustus 2020

INI DOA RASULULLAH SAW DI AKHIR TAHUN

Tahun hijriah akan mengalami pergantian tahun ada baiknya  kalau kita mengakhiri tahun ini dengan pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah. Dan baik pula kalau kita memohon penerimaan amal baik kita yang serba kurang itu. Berikut ini doa yang dibaca Rasulullah SAW di akhir tahun. 

 Doa ini dicantumkan oleh Sayid Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar sebagai berikut. 

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ 
فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ 

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm. 

Artinya, “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku.  Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.” 

Doa yang dibaca sebanyak tiga kali ini diharapkan menjadi akhir tahun yang baik. Semoga Allah menerima doa yang kita baca di akhir Dzulhijjah tahun ini. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share:

KETIKA ALI BIN ABI THALIB DITANYA TENTANG KEUTAMAAN ILMU DAN HARTA


Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: bersabda Rasulullah SAW: 

 قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَعْمَالُ الْمَكْفِيِّيْنَ وَالصَّلاَةُ أَعْمَالُ الْأَعَاجِزِ وَٱلصَّوْمُ أَعْمَالُ الْفُقَرَاءِ وَالتَّسْبِيْحُ أَعْمَالُ النِّسَاءِ وَالصَّدَقَةُ أَعْمَالُ الْأَسْخِيَاءِ وَالتَّفَكُّرُ أَعْمَالُ الضُّعَفَاءِ أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ؛ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَمَا أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ ؟ قَالَ: طَلَبُ 
الْعِلْمِ فَإِنَّهُ نُوْرُ الْمُؤْمِنِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه الحاكم) 

Membaca Al-Qur’an itu adalah amal orang-orang yang dilindungi dan shalat itu adalah amal orang-orang yang tak berdaya dan puasa itu adalah amal orang-orang miskin dan tasbih itu amal orang-orang perempuan dan sedekah itu amal orang-orang yang murah hati sedang tafakur itu adalah amal orang-orang yang lemah. (amalkanlah itu semua!) Maukah kutunjukkan kepada kalian amal para pahlawan? Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah amal para pahlawan itu?” Beliau menjawab: “Menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat”. (HR. Hakim). 
Bersabda Rasulullah SAW: 

أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا. 

 “Aku adalah kota ilmu sedang Ali adalah pintunya”. 

Tatkala kaum Khawarij mendengar hadits ini mereka mendengki kepada Ali ra dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka: mereka berkata: Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana ia menjawab kita, seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia seorang yang alim sebagaimana dikatakan oleh Nabi SAW. 

Seorang di antara mereka datang kepada Ali bertanya: Hai Ali, mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu itu warisan para nabi dan harta itu warisan Qarun dan Syaddad dan Fir'aun serta lainnya. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti pertanyaan orang pertama dan kedua. Maka Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Apabila engkau belanjakan hartamu ia akan berkurang dan jika engkau amalkan ilmumu ia akan bertambah. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta bisa dipanggil si pelit dan menjadi hina sedang pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan agung dan mulia. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Manakah yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedang ilmu itu tidak bisa lapuk dan usang. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati. Kemudian pergilah orang itu. 

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedang orang yang berilmu mengaku sebagai hamba Allah. 

Andaikata mereka bertanya tentang ini niscaya akan kujawab dengan jawaban lain selama aku hidup. Kemudian datanglah mereka dan menyerah semuanya.  

 Diterjemahkan dari Mawaa'idul Usfuriah, hal.4
Share:

Senin, 17 Agustus 2020

LIMA MACAM PAHALA SEDEKAH


Al Imam As-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala sedekah itu ada 5 macam :

أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
( كتاب بغية المسترشدين )

Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :

1. Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.

2. Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.

3. Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.

4. Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua.

5. Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.

Sumber : Kitab Bughyatul Musytarsyidin.



Share:

Minggu, 16 Agustus 2020

ILMU YANG LEBIH UTAMA

Malik bin Dinar Ra pernah berkata : 
"Barang siapa yang menuntut ilmu untuk dirinya sendiri, maka ilmu yang sedikit dapat mencukupi nya , dan barang siapa yang menuntut ilmu untuk kepentingan manusia, sesungguhnya kepentingan manusia banyak sekali

Oleh karena itu, hendaknya lah engkau mempelajari ilmu yang Allah SWT wajibkan bagimu untuk diketahui, sedangkan untuk lebih memperluas Ilmu bukan merupakan kewajiban mu, justru kewajiban mu adalah mempelajari ilmu aqidah, yang mana keimanan mu tidak akan sempurna tanpanya.

Dan hendaknya engkau juga mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya agar engkau dapat menunaikan setiap apa yang Allah SWT wajibkan bagimu dalam melaksanakan ketaatan kepada Nya, dan bagaimana cara untuk menghindar dari perbuatan kemaksiatan yang dilarang Allah SWT, karena hal itu merupakan suatu kewajiban yang harus segera dikerjakan tanpa di tunda tunda lagi.

Di kutip dari kitab Risalatul mudzakarah karya Imam Abdullah al-Haddad

Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

MALAM INI, ALLAH MENGUNDANGMU!

Pernahkah kau menonton film tentang 'cinta?'. Biasanya waktu favorit untuk bertemunya mereka adalah ketika malam hari. Berdua, bersama, itulah kenikmatan yang tak ada duanya. 

Baiklah, jika telah tertanam di otak kita, bahwa berduaan dengan dia adalah hal terindah. Tapi mengapa berduaan dengan 'dia' itu tidak kita ganti saja dengan berduaan dengan Allah?

Di pertengahan malam, di atas sajadah, dalam keadaan suci, Allah merindukan air matamu yang merengek padanya. 

نصتغر لعظمته و نقوم له في جوف الليل و ظلمته و نستغفره و نسعد بمناجته

"Merendahkan diri kita di hadapan keagungan Allah, berdiri menghadapnya di keheningan malam & memohon ampunan, serta bermunajat kepada-Nya."

Habib Umar bin Hafidz dalam kitabnya yang berjudul 'Khuluquna' menyantumkan, bahwa *bangun malam untuk beribadah adalah termasuk dari akhlak kita kepada Allah.*

Bahkan, Allah pernah menyeru kepada Nabi Dawud, "Ya Dawud! Bohong orang yang mengaku mencintaiKu, tetapi jika datang malam hari, ia tertidur. Bukankah seorang kekasih menyukai berduaan dengan orang yang dicintainya?"

Belum bisa dikatakan cinta jika kita tidur di pertengahan malam. Kalau kita cinta, pasti kita ingin berduaan dengan Allah. Dan waktu berduaan itu paling pas di malam hari.

Apalagi jika kita sedang menghadapi masalah dalam hidup kita, kemanakah pelarian kita? Curhat sana-sini ke teman-teman kita??? Lalu apa hasilnya? Mungkin hanya kelegaan sementara. kalaupun ia bisa memberimu solusi, itu semua hanya perantara dari Allah. Coba kita ganti kebiasaan itu. Kita luapkan segala keluh kesah kita bersama Allah di malam hari. Merengeklah bagaikan seorang bayi dengan ibunya. Ingat, Allah pasti mendengarmu! Allah melihatmu! Allah paling mengerti semua yang kau rasakan! Dan Allah Maha Kuasa. Tak ada yang tak mungkin di sisi-Nya. Ia bisa dengan hanya sekedipan mata untuk menyelesaikan segala problem kita. Dan melapangkan hati kita selapang-lapangnya. Masihkah meragukan-Nya?

Kenalkah kau dengan Rabiatul Adawiyyah? Seorang wanita waliyyah, yang tak hentinya menghabiskan malamnya dalam keadaan fana' kepada Allah.
Dikatakan, wajah beliau selalu terlihat seperti baru wudhu'. Tapi ternyata, bukan air wudhu yang terurai di wajahnya. Melainkan air mata deras yang mengalir dari kedua matanya.
Nah, bagaimana dengan kita??? Yang sama-sama berlabel 'kaum hawa'. Jangan jadikan kesibukan kita dengan dunia di siang hari, menjadi alasan kita malas bangun di malam hari.

Luangkanlah waktumu untuk berduaan dengan Allah. Allah Sang Pemilik segalanya. Pemilikmu & pemilikku. Allah yang Maha Pengasih. Allah tak akan mengecewakan hamba-hambaNya.

Kalau gak ke Allah, mau kemana lagi???

Dikutip dari Kajian Kitab Khuluquna, karya Habib Umar bin Hafidz



Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

Sabtu, 15 Agustus 2020

DOA PAGARI ANAK-ANAK DARI BAHAYA PANDANGAN JAHAT (PENYAKIT AIN)


Pandangan mata mengandung hakikat. Pandangan mata dapat berdampak buruk pada kesehatan seseorang terutama anak-anak. Karenanya Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah untuk Hasan dan Husein ketika masih kanak-kanak dari gangguan setan dan pengaruh pandangan mata jahat dan hasut. Di samping pandangan jahat penuh kedengkian, pandangan takjub dan senang meluap-luap tanpa dibarengi dzikrullah juga dapat membawa pengaruh negatif terhadap objeknya. 

Pernah dikisahkan sebanyak 70.000 penduduk meninggal dunia seketika setelah salah seorang nabi di masa dahulu yang melewati negeri mereka memandang takjub akan padat penduduk dan makmurnya mereka. 

Untuk itu Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai berikut untuk melindungi anak-anak dari semua pengaruh tersebut. 

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ 

U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmati min kulli syaithânin, wa hâmmatin, wa min kulii ‘ainin lâmmah. Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah. 
Artinya, “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.”

Doa ini diangkat oleh Imam Nawawi dalam karyany Al-Adzkar. Di dalam karyanya itu, ia menyebutkan sejumlah hadits yang berkenaan dengan sejumlah gangguan yang dapat menyebabkan mudarat pada anak-anak. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memandang takjub pada anak-anak sebaiknya dibarengi dengan doa keberkahan untuk mereka. 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/72933/doa-pagari-anak-anak-dari-bahaya-pandangan-jahat-penyakit-ain
Share:

BAGAIMANA AGAR TIDAK MENJADI PRIBADI YANG MUDAH MARAH ?


1. Biasakan Memberi Uzur

Berilah kesempatan orang lain untuk menjelaskan segala perkara, dan tahan emosi sebisa mungkin. Karena biasanya, orang yang mudah marah itu orang yang tidak mau mendengar penjelasan orang lain. Maka, ikutilah nasihat Nabi Saw, berilah uzur kepada saudaramu sebanyak 70 kali.

 2. Perbanyak Zikir

Dengan berzikir, kita akan terhindar dari gangguan setan dan hal-hal buruk lainnya. Karena sesungguhnya, marah itu datangnya dari setan. Zikir juga mampu melembutkan hati. Sebab, Zikir laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika tanpa air? Tentu akan mati. Begitu juga hati kita.

 3. Selalu Menjaga Wudhu

Dengan menjaga wudhu, maka kita akan dijaga oleh malaikat. Karena, malaikat menyukai orang-orang yang menjaga kesuciannya. Dan, para malaikat pun mendoakan manusia yang senantiasa menjaga wudhunya.

 "Sejatinya, orang yang paling kuat imannya adalah orang yang bisa mengendalikan perasaannya di setiap peristiwa."

Dikutip dari Buku Jangan Jadi Akhwat Nyebelin


Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

Kamis, 13 Agustus 2020

SEBUAH RENUNGAN TENTANG CINTA


Salafunas sholeh rahimahullah berkata,
“Meraih sesuatu yang dicintai seringnya harus menanggung sesuatu yang menyusahkan. Baik cinta yang benar maupun cinta yang tidak benar.”

Cobalah renungkan

Orang yang cinta kedudukan
Dia lelah untuk meraihnya
Menghadapi rintangan yang amat berat
Bahkan seringkali berbahaya untuk dunia dan agamanya

Orang yang cinta harta
Ia habiskan waktunya untuk membanting tulang
Tak kenal waktu
Bahkan sering ia sakit karenanya

Orang yang cinta syahwat
Ia lelah hatinya
Demi mengejar syahwat yang ia dambakan

Di saat jauh
Ia tersiksa oleh kerinduan
Di saat dekat
Ia tersiksa oleh kekhawatiran tuk berpisah dengannya

Ternyata memang meraih yang dicintai butuh pengorbanan
Semakin cinta
Semakin kuat perjuangan meraihnya
Semakin kurang cintanya
Semakin lemah pengorbanan

Semua kita mengaku mencintai Allah dan RasulNya. Sejauh manakah pengorbanan untuk meraih cinta itu?

Salafus Sholeh juga berkata,
“Apabila seorang hamba meninggalkan apa yang ia mampu lakukan dari berjihad, maka itu bukti kelemahan cinta dalam hatinya kepada Allah dan rasulNya.”

Terkadang kita mampu melakukan suatu ibadah
Namun kemalasan menghentikan langkah
Tak ada perjuangan untuk melawannya
Itulah kelemahan cinta
Walaupun pelakunya mengaku ia cinta sejuta rasa

Wallahu Musta’an
Barakallah fikum 


Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

Selasa, 11 Agustus 2020

RIYA' MERUSAK AMALMU!


Pernah nggak merasa senang banget pas lagi melakukan kebaikan, terus ada orang yang lihat dan akhirnya dia muji kita?

Atau malah sengaja cerita dan pamer ke media supaya dapat jempol dan like dari ratusan orang?

Wah, perlu waspada nih dengan hal seperti itu. Takutnya ada penyakit riya' dalam hati kita.
Apa itu? Melakukan amal perbuatan semata-mata karena ingin dilihat, diperhatikan, mendapat pujian dari manusia.
Amal yang disertai dengan riya’ tidak akan diterima oleh Allah, sekalipun nilainya banyak dan besar menurut pandangan manusia. Sebab menurut penilaian Allah adalah kosong dan sia-sia.

Penyakit hati yang ini juga sangat berbahaya, hingga Nabi menamainya dengan syirik kecil.
Gara-gara riya' bisa jadi batal dapat pahala, malah dapatnya murka. Na'udzubillah...

Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan kita dengan sabdanya,

اول خلق الله تُصلَى بهم النار يوم القيامة ثلاثة : رجل قرأ القرآن ليُقالَ أنه قارئ ، ورجل استُشْهِدَ وما قاتل إلا ليُقالَ إنه جَرِيْءٌ ، ورجل له مال تصدَّق منه صدقة ليقال إنه جواد.

"Makhluk Allah yang pertama kali akan dimasukkan ke dalam neraka kelak pada hari kiamat ada tiga, yaitu:

1. Orang yang membaca Al-Quran agar dikatakan bahwa ia adalah orang yang pandai membaca.

2. Orang yang yang mati syahid, namun ia tidaklah berperang melainkan agar dikatakan bahwa ia adalah seorang pemberani.

3. Orang yang diberi keluasan harta kemudian ia mensedekahkannya, agar dikatakan orang yang dermawan.”

Hadits tersebut menunjukkan betapa remehnya amal ibadah yang dikerjakan dengan tanpa ikhlas karena Allah. Meskipun menghabiskan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa. Semua dianggap sia-sia tak berpahala.

Diibaratkan ada seorang yang keluar dari pasar sambil memenuhi kantongnya dengan kerikil. Setiap manusia yang bertemu dengannya selalu berkata, "Alangkah penuhnya kantong yang dibawa orang itu ya."
Padahal di dalamnya tidak ada kemanfaatan sama sekali. Yang ia dapatkan hanyalah pujian dan sanjungan dari manusia saja. 

Jika merasa ada gejala penyakit ini, cara mengobatinya bukan malah dengan meninggalkan amal kebaikan tersebut.
Nggak mau ke masjid gara-gara takut dibilang baru taubat. Nggak mau pakai hijab gara-gara takut dibilang baru hijrah. 
Kalau gitu malah setannya yang bahagia. 
Terus caranya gimana? 
Perangilah hawa nafsumu dan memohonlah pertolongan kepada Allah.
Ikhlaskan dan luruskan niatmu hanya semata-mata karena Allah. Jika amalan tersebut bisa dilakukan sembunyi-sembunyi, seperti sedekah, maka lakukanlah. 

Kitab Risalah Mudzakarah


Sumber : https://t.me/akhwattarim

Share:

Minggu, 09 Agustus 2020

CINTA ALLAH KEPADA ORANG YANG MENCINTAI SESAMA KARENA ALLAH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa Rasulullah SAW mengisahkan:

Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui laki-laki itu. 

Ketika orang itu sampai di tempat tujuan, malaikat tersebut bertanya, 
"Hendak pergi ke mana kamu?" 

Orang itu menjawab, 
"Saya hendak menjenguk saudara saya yang berada di desa ini." 

Malaikat itu lantas bertanya kepadanya, 
"Apakah kamu mempunyai satu perkara yang menguntungkan dengannya?" 

Laki-laki itu menjawab, 
"Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah SWT" 

Akhirnya malaikat itu berkata, "Sesungguhnya aku adalah malaikat utusan Allah yang diutus kepadamu untuk memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya"

Hadist shahih. HR Muslim dan Ahmad


Sumber :  https://t.me/akhwattarim

Share:

Support